Strategi Komunikasi Bisnis di Era Kecerdasan ala Alumni Connect BGP
Di tengah suasana hangat Aula 800 Kampus BINUS Anggrek, Jakarta Barat, pada Rabu siang, 18 Februari 2026, puluhan alumni Magister Teknik Informatika (MTI) kelas PUPR (Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia) berkumpul dalam tajuk “Alumni Connect” yang diselenggarakan oleh BINUS Graduate Program.
Sepanjang acara berlangsung, Indah D.P. Pertiwi, Head of Corporate Communication & CSR PT Nusantara Infrastructure Tbk, hadir mengangkat sebuah topik penting di tengah gempuran AI: bagaimana komunikasi bisnis sudah bertransformasi dan apa dampaknya pada kepercayaan publik? Anda bisa menemukan jawabannya di sini.
Fondasi Kepercayaan di Tengah Kecepatan Teknologi
Dunia infrastruktur sering kali dipandang sebagai sektor yang kaku dan berorientasi pada fisik. Namun, Ibu Indah membuka pemaparannya dengan sebuah kontras yang tajam.
Anda mungkin sepakat bahwa membangun jalan tol atau bendungan membutuhkan waktu tahunan, sementara infrastruktur digital bisa tegak dalam hitungan bulan. Namun, tahukah Anda bahwa infrastruktur kepercayaan masyarakat yang dibangun puluhan tahun bisa runtuh hanya dalam waktu 3 hingga 5 jam?
Menurut beliau, tantangan utama saat ini bukanlah keterbatasan teknologi, melainkan bagaimana menjaga legitimasi di tengah ekosistem informasi yang semakin liar.
Transformasi Ekosistem Informasi dan Ancaman Disinformasi
Untuk memperkuat relevansi pemaparannya, Ibu Indah menyoroti fenomena information velocity dengan algoritma yang cenderung menunjukkan konten kontroversial. Melalui teknik narrative engineering, pihak-pihak tertentu kini bisa membentuk opini menggunakan bot, video deepfake, hingga komentar sintetis.
Anda tentu masih ingat kasus deepfake yang mencatut nama pejabat publik untuk opini miring tentang profesi tertentu, bukan? Itulah risiko nyata yang dihadapi dalam praktik komunikasi bisnis modern.
Jika dibungkus dengan framing yang salah, data yang benar pun akan melahirkan mispersepsi publik. Membuktikan hal tersebut, Ibu Indah memberikan contoh kasus.
“Di headline ini ada pengumuman proyek X menghabiskan 10T. Kurang jelas kan, sepuluh triliun itu pembangunannya untuk apa? Dan misalnya apakah membawa manfaat yang banyak atau bermanfaat untuk khalayak luas,” tutur beliau.
Tanpa penjelasan rincian jangka waktu penggunaan dana tersebut atau tujuannya, angka tersebut bisa digoreng sebagai pemborosan. Maka dari itu, komunikator profesional harus memberikan konteks di tengah banjir informasi yang sering kali tanpa makna.
Komunikasi Bisnis sebagai Pertahanan Organisasi
Jika tim IT memiliki sistem pertahanan digital, tim komunikasi adalah lapisan keamanan bagi reputasi perusahaan. Indah membagikan strategi internal di Nusantara Infrastructure yang menerapkan sistem monitoring berbasis AI untuk menangkap isu sebelum meledak menjadi krisis.
Monitoring ini tidak lagi dilakukan secara manual melalui kliping koran, melainkan melalui kata kunci khusus yang melacak percakapan di media konvensional maupun media sosial secara real-time.
Pilar utama dalam strategi ini meliputi issue monitoring untuk mendengarkan pembicaraan publik, menyiapkan draf narasi sejak potensi masalah muncul, melatih tim agar tidak gagap di situasi darurat, dan menentukan siapa yang berhak bicara berdasarkan skala krisis.
Agar lebih mudah dipahami, Ibu Indah juga mengibaratkan hierarki bicara seperti permainan catur. Tidak semua masalah harus langsung ditangani oleh CEO atau bidak ratu. Sering kali, pion atau juru bicara tingkat manajerial bisa maju terlebih dahulu untuk meredam suasana, sementara pimpinan tertinggi disimpan untuk isu yang berkaitan dengan keselamatan jiwa atau krisis berskala nasional.
Sinergi Manusia dan AI: Empati yang Tak Tergantikan
Di tengah diskusi mendalam, muncul pertanyaan apakah AI akan menggantikan peran humas. Namun, Ibu Indah memberikan satu jawaban tegas: “Tidak.”
Menurutnya, AI adalah alat untuk mempercepat proses manual seperti analisis sentimen atau visualisasi data. Namun, komunikasi bisnis tetap memerlukan individu yang memahami hubungan antarmanusia. Sebab, AI mungkin bisa menciptakan teks yang terdengar simpatik, tapi tidak memiliki empati yang tulus.
Dalam studi kasus banjir di Tol BSD, Indah menceritakan bagaimana perusahaan harus menghadapi amarah publik. Alih-alih bersembunyi di balik data teknis, langkah pertama yang diambil adalah menunjukkan empati. “Mohon maaf atas ketidaknyamanan Anda,” menjadi kalimat pembuka yang penting sebelum masuk ke penjelasan teknis mengenai luapan sungai.
Intinya, kolaborasi antarinstansi, mulai dari kementerian hingga pemerintah daerah, menjadi kunci sukses dalam memulihkan reputasi dan memberikan solusi nyata bagi masyarakat.
Menutup sesinya di kampus BINUS @Anggrek Kemanggisan, Indah mengajak semua orang yang menghadiri acara Alumni Connect PUPR untuk melihat AI sebagai kawan sekaligus risiko yang harus dikelola dengan governance kuat. Hal ini penting untuk menjaga integritas informasi dan reputasi bisnis.
Sebab pada akhirnya, di dunia yang digerakkan oleh algoritma, sentuhan kemanusiaan dan kejujuran tetaplah menjadi mata uang yang paling mahal dalam komunikasi bisnis.

