Digital Disruption: Tantangan Transformasi Digital Bisnis yang Harus Diatasi

Banyak orang yang memandang digital disruption sebagai sebuah ancaman yang dapat menjatuhkan eksistensi bisnis mereka. Akan tetapi, hal ini tidak sepenuhnya benar. Digital disruption merupakan perubahan terhadap teknologi digital dan model bisnis yang mempengaruhi value proposition dari produk atau jasa yang dijual. Digital disruption memang menjadi tantangan, namun bisa juga Anda jadikan “cambuk” untuk melakukan transformasi digital secara optimal.

Dalam webinar bertajuk “Accelerating Digital Transformation During The Pandemic” yang diadakan oleh BINUS Graduate Program pada hari Sabtu (10/10), Dr. Leonardus W. Wasono Mihardjo, S.T., M.Eng., CMA selaku CFO di PT Telkomsel memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai apa saja tantangan yang harus diantisipasi perusahaan serta cara-cara mengatasinya guna berhasil melakukan transformasi digital.

Martec’s law

Martec’s law merupakan sebuah teori yang mengatakan bahwa perkembangan teknologi itu selalu bergerak secara eksponensial, atau bergerak lebih cepat daripada perubahan dalam organisasi bisnis. Sehingga, akan muncul sebuah jarak yang cukup besar antara bisnis dengan transformasi digital yang ingin dituju. Lantas, bagaimana cara menutup jarak tersebut?

Menurut Dr. Leonardus, hal yang bisa dan umum dilakukan oleh bisnis dalam menutup jarak ini adalah dengan menciptakan terobosan seperti dibentuknya gugus tugas yang dianggap mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital secara lebih cepat. Gugus tugas ini bersifat project based, sehingga akan ada pemisahan antara eksploitasi dengan eksplorasi.

Perubahan persepsi bisnis dan gaya kepemimpinan

Bila semula bisnis berjalan dengan persepsi inside out, di mana produk atau jasa yang dipasarkan harus laku. Sementara kini, persepsi bisnis berubah menjadi outside in, bisnis harus melihat kebutuhan dan demand dari konsumen, barulah bisnis bisa mulai memproduksi produk atau jasa tersebut.

Kemudian, pandangan yang object oriented juga harus digantikan dengan konsep kolaboratif. Nyatanya, banyak kebutuhan konsumen yang tidak bisa dipenuhi dengan satu macam produk saja, sehingga harus ada kolaborasi antara sebuah bisnis dengan bisnis lain untuk menghasilkan produk yang lebih baik dan profitable.

Sementara itu, bisnis yang mengalami transformasi bisnis sudah tidak bisa lagi menerapkan gaya kepemimpinan yang directive. Gaya kepemimpinan yang tepat adalah yang lebih dinamis supaya bisa lebih mudah beradaptasi dengan banyaknya perubahan yang ada. Hal ini juga memungkinkan bisnis tersebut untuk lebih sigap ketika perlu melakukan business development di kemudian hari.

Lingkungan perusahaan harus dirombak

Selain persepsi bisnis dan gaya kepemimpinan, lingkungan perusahaan juga harus dimodifikasi agar dapat menjadi tempat yang nyaman untuk memunculkan inovasi-inovasi baru. Dalam lingkungan kerja yang baik, harus ada tercipta kesempatan bagi karyawan untuk meningkatkan skill, bebas berkarya, dan membentuk nilai baru.

Jelas akan sulit, terutama bagi perusahaan yang sebelumnya bekerja secara formal. Akan tetapi, perubahan lingkungan kerja seperti ini akan membantu bisnis dalam mempersiapkan diri menuju transformasi digital.

Upaya yang harus dilakukan

Agar transformasi digital yang dilakukan berjalan dengan sukses dan tidak tersendat di tengah jalan, ada beberapa upaya yang perlu menjadi fokus utama sebuah perusahaan. Para petinggi perusahaan harus memiliki pemikiran serta rencana short term dan long term agar performa bisnis bisa tetap terjaga, bahkan meningkat, selama transformasi digital.

Lalu, perusahaan harus menghilangkan jarak antara karyawan dengan atasan. Jangan sampai petinggi perusahaan tidak mampu mengidentifikasi permasalahan dalam sisi operasional bisnis hanya karena hubungan yang tidak terbuka dengan karyawan.

Selain itu, perubahan dalam KPI dan sistem komunikasi perusahaan juga tidak bisa luput dari perhatian. Demikian juga dengan upaya untuk meningkatkan literasi digital masing-masing karyawan. Hal yang tak kalah penting adalah memperbaiki customer experience dengan menciptakan terobosan-terobosan baru melalui kolaborasi bersama konsumen. Kolaborasi dengan stakeholders pun sama krusialnya.

Cara mengakselerasi transformasi digital

Dr. Leonardus memberi contoh kasus akselerasi transformasi digital yang dilakukan oleh PT Telkomsel. Dalam proses ini, ada tiga pilar utama transformasi digital. Pertama adalah kompetensi utama dari PT Telkomsel, yakni digital connectivity. Digital connectivity ini mencakup jaringan 2G-5G yang akan menyokong pilar kedua, digital platform.

Untuk digital platform, PT Telkomsel secara intens bekerja sama dengan perusahaan lain, sekaligus memperkuat kompetensi utama PT Telkomsel. Contohnya seperti personalized engine (IoT dan Digi Ads) serta platform untuk analisis big data (LinkAja, AI, dan RPA). Tujuannya adalah untuk memanfaatkan kompetensi utama PT Telkomsel demi meraih pasar yang lebih luas.

Ketiga adalah digital services yang dibedakan menjadi dua kategori, yakni menguntungkan bagi sisi enterprise dan bagi sisi konsumen. Dengan begitu, konsumen pun bisa menikmati lebih banyak layanan dari PT Telkomsel. Untuk bisa mengembangkan digital services, PT Telkomsel pun turut bermitra dengan perusahaan OTT yang ada supaya layanan yang dihadirkan pun terjamin kualitasnya.