Pisau Bermata Dua AI di Era Teknologi Digital

“Konon, AI itu seperti pisau bermata dua bagi programmer.” Kalimat itu diucapkan oleh Pak Gintoro, seorang praktisi industri perangkat lunak yang telah lama bergelut di dunia education service software di Indonesia. Apa alasan di balik penuturan tersebut tentang teknologi digital saat ini? Temukan jawabannya dalam pembahasan #DCSPodcast BINUS University bersama Prof. Ford Lumban Gaol tentang “Rise of Intelligent Edge: Software Driving Real-time Decisions at the Network Edge” berikut ini!

Pandemi dan Percepatan Dunia Digital

Perubahan besar dalam perilaku masyarakat terjadi karena keadaan yang memaksa. Akibat Covid-19, masyarakat yang sebelumnya enggan berinteraksi secara online kini bergantung sepenuhnya pada aplikasi untuk menjalani rutinitas. Misalnya, untuk berbelanja, memesan transportasi, hingga berkonsultasi dengan dokter.

“Dulu saya jarang belanja online, Prof. Tapi setelah COVID, semua jadi harus online,” kata Pak Gintoro sambil tersenyum. Kalimat itu mewakili transformasi sosial yang dialami jutaan orang di Indonesia.

Dari Desktop ke Mobile: Evolusi Tanpa Henti

Di saat yang bersamaan, Pak Gintoro juga mengamati bahwa industri teknologi digital kini telah bergerak jauh dari era aplikasi berbasis desktop dan website. Justru, semua sedang menuju ke arah mobile application yang menawarkan fleksibilitas tanpa batas.

Ada tantangan besar yang tersembunyi di balik kemudahan. Sebab, developer harus berhadapan dengan berbagai sistem operasi, ukuran layar, dan perubahan OS yang begitu cepat. “Mengembangkan aplikasi sekarang tidak mudah,” ujar Pak Gintoro. “Tapi ke sanalah arah industri, mau tidak mau kita harus ikut.”

Generasi Baru, Tantangan Baru

Di tengah perubahan cepat itu, muncul generasi baru pengembang muda yang haus akan peluang. Kebanyakan berasal dari universitas-universitas yang mulai menanamkan semangat entrepreneurship berbasis teknologi.

Menurut Gintoro, mahasiswa kini belajar membuat program dan memecahkan masalah nyata. “Yang penting bukan seberapa cepat kamu menulis kode,” katanya, “tapi masalah apa yang bisa kamu selesaikan.”

Itulah sebabnya kolaborasi antara kampus, industri, dan pemerintah menjadi sangat penting. Kampus harus berani keluar dari zona nyaman akademik, sementara industri perlu membuka pintu riset untuk mendukung eksperimen mahasiswa.

AI: Sekutu dan Ancaman

Pembahasan mencapai titik puncaknya ketika topik AI muncul. Pak Gintoro memandang AI sebagai pisau bermata dua karena bisa mempercepat proses pengembangan aplikasi, dari menulis kode hingga membuat prototipe. Namun, beliau juga menyoroti ada risiko tersembunyi yang disebut cognitive debt. Yaitu, ketika manusia terlalu bergantung pada mesin dan kehilangan kemampuan berpikir kritis. Itulah ancaman nyata bagi developer.

“Sekarang user bisa membuat aplikasi sederhana sendiri dengan bantuan AI,” ujar Gintoro. “Tapi begitu kompleks, mereka tetap butuh developer […] Teknologi akan terus berubah, tapi way of thinking yang kuat akan membuat seseorang tetap relevan.”

Oleh sebab itu, beliau menekankan bahwa yang harus diasah bukanlah kemampuan teknis, melainkan pola pikir berbasis riset. Pendidikan tinggi, terutama di tingkat doktoral, memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir itu.

Mengikat Dunia Akademik dan Industri

Meski pendidikan di jenjang yang lebih tinggi bisa mengasah mindset berbasis riset, Pak Gintoro juga tak bisa mengabaikan satu masalah besar: jarak antara dunia akademik dan dunia industri. Di Indonesia, keduanya sering berjalan sendiri-sendiri. Padahal, dalam pengalamannya, riset dan praktik seharusnya menjadi dua sisi dari satu koin yang sama.

Menurut beliau, perusahaan software yang matang memiliki dua area penting, yakni Research and Development (R&D) dan Production. R&D menjadi tempat eksperimen teknologi baru sebelum dibuat oleh Production dan diterapkan secara luas.

”Kalau langsung kita pasang tanpa riset, bisa berantakan semua,” katanya sambil tertawa kecil. 

Beliau pun membagikan pengalamannya dalam membangun sistem berbasis cloud untuk sektor pendidikan. Teknologi digital tersebut memungkinkan integrasi antar sistem, mulai dari keuangan, sumber daya manusia, hingga perbankan, dengan biaya yang lebih efisien.

Agar bisa berjalan dengan baik, bukan hanya akademisi dan profesional yang harus bekerja keras. Justru, di mata Pak Gintoro, pemerintah juga berperan penting dalam menjaga ekosistem ini. Ia mendorong adanya sistem single sign-on nasional untuk melindungi data pengguna dan mengurangi duplikasi informasi.

 

Jadi, bagaimanakah masa depan industri software Indonesia nanti? Baik Pak Gintoro maupun Prof. Ford Lumban Gaol percaya bahwa dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, Indonesia bisa menjadi penyedia layanan software global. Tentunya, asalkan sumber daya manusianya siap.

Mereka sepakat bahwa Indonesia punya modal besar dari segi generasi muda yang adaptif, teknologi digital yang terus berkembang, dan semangat kolaborasi yang mulai tumbuh. Kini, tantangannya tinggal satu: memastikan bahwa pola pikir berbasis riset yang ditanamkan di ruang-ruang kuliah mampu menjawab dinamika dunia yang berubah cepat.

Whatsapp