BINUS University dan ADGI Dorong Peran Riset sebagai Penggerak Inovasi dan Monetisasi Desain

BINUS Graduate Program – Master of Design berkolaborasi dengan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) sukses menyelenggarakan seminar bertajuk “Research-based Practice: For Design Innovation and Monetization” pada 13 Juni 2026 di BINUS @Anggrek Kemanggisan, Jakarta Barat.

Seminar ini menghadirkan dua tokoh industri kreatif Indonesia sebagai narasumber utama, yaitu Ritchie Ned Hansel selaku Ketua Umum ADGI, Creative Director ParagonCorp, sekaligus Founder Bit Group Asia; serta Ritter Willy Putra sebagai Ketua ADGI Chapter Jakarta dan Partner & Art Director Thinking Room. Diskusi dipandu oleh Dr. Sari Wulandari, Subject Content Coordinator for Academic Framework of Design di BINUS University.

Melalui forum ini, peserta diajak memahami bahwa desain tak lagi terbatas pada estetika visual semata. Justru, hal tersebut telah berkembang menjadi instrumen strategis yang dapat membantu bisnis, brand, dan organisasi mencapai tujuan tertentu. Untuk itu, proses desain perlu didukung oleh pendekatan berbasis riset.

Dalam paparannya, Ritchie menekankan bahwa riset merupakan fondasi penting untuk memperkuat kualitas ide sekaligus meningkatkan relevansi desain terhadap kebutuhan stakeholder. Menurutnya, proses riset memungkinkan desainer untuk memahami kebutuhan klien, konteks bisnis, hingga dampak yang ingin dicapai, sehingga solusi yang dihasilkan akan lebih tepat sasaran.

Lebih lanjut, Ritchie menjelaskan bahwa design research belum cukup jika hanya memahami demografi, persona, atau karakter pasar. 

“Desainer juga perlu mempelajari business size, peluang pertumbuhan, dan tantangan yang mungkin akan dihadapi brand di masa depan. Dengan demikian, kita jadi punya perspektif yang lebih luas akan project yang kita kerjakan,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Ritter menyoroti pentingnya melihat desain sebagai bagian dari suatu sistem yang saling terhubung. Desain tidak dapat bekerja sendiri jika ingin menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan. Menurutnya, desain justru harus terintegrasi dengan kualitas produk, market fit, strategi pemasaran, dan aktivitas bisnis lainnya agar mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi brand.

Agar dapat menghubungkan hasil riset dengan peluang bisnis, Ritter menegaskan bahwa desainer perlu memiliki kepekaan terhadap budaya. Ia memaparkan, “Desainer tidak boleh menutup mata terhadap apa yang sedang terjadi. Kita harus paham industri yang relevan, harus tahu banyak hal. Selain itu, desainer juga perlu punya intuisi kreatif agar bisa menciptakan ide-ide inovatif yang berpotensi diterima pasar.”

Topik mengenai artificial intelligence (AI) juga menjadi pembahasan penting dalam seminar. Kedua narasumber sepakat bahwa AI dapat menjadi alat untuk meningkatkan efisiensi kerja dan eksplorasi ide, bukannya menjadi ancaman bagi desainer.

Ritchie mengatakan bahwa AI telah menjadi bagian penting dalam proses design research karena dapat membantu mengolah data. Meski begitu, aspek kreasi tetap butuh human touch yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi. 

Mengamini pernyataan tersebut, Ritter menekankan bahwa empati merupakan nilai utama yang membedakan manusia dari AI. Kemampuan memahami emosi, kebutuhan, dan pengalaman manusia merupakan faktor krusial dalam menciptakan desain yang bermakna dan relevan. Oleh sebab itu, riset yang didukung empati akan selalu menjadi kekuatan utama desainer di era digital yang terus berkembang.

Seminar “Research-based Practice: For Design Innovation and Monetization” juga menjadi ruang bagi BINUS University dan ADGI untuk menyoroti pentingnya kolaborasi antara dunia akademis dan industri, terutama dalam membangun ekosistem desain yang lebih relevan. Diskusi ini diharapkan mampu mendorong lahirnya praktik desain yang lebih berorientasi pada riset, serta mampu menghasilkan kontribusi nyata bagi industri maupun masyarakat.

Kegiatan ini juga sekaligus menegaskan komitmen BINUS Graduate Program – Master of Design dalam menjembatani dunia akademis dan industri. Dengan demikian, dapat tercipta talenta desain yang unggul secara kreatif, adaptif terhadap perubahan, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

Whatsapp