Menganyam Jalan Baru dengan Entrepreneurship Berbasis Artificial Intelligence

Apakah artificial intelligence (AI) ada di dunia, atau justru dunialah yang berada dalam kendali AI? Itulah pertanyaan yang sering mengisi pikiran banyak orang seiring pesatnya perkembangan teknologi zaman sekarang. Untuk menjawabnya, Prof. Ford Lumban Gaol dan Dr. Idha Kristiana dari program Doctor of Computer Science BINUS University saling berdiskusi sekaligus berbagi pengalaman tentang menciptakan solusi berbasis AI untuk bisnis.

Sekilas Tentang Dr. Idha Kristiana

Cerita Idha dimulai dari masa pandemi yang membuatnya punya waktu lebih longgar dan butuh aktivitas baru. “Awalnya cuma mau mengisi kekosongan,” katanya, sambil menjelaskan bagaimana ia akhirnya menemukan program DCS BINUS dan memutuskan daftar tanpa banyak pertimbangan. 

Namun, ketika ritme kerja kembali normal enam bulan kemudian, situasi langsung berubah. Kuliah berjalan, proyek kantor menumpuk, dan ekspektasi stakeholder bertambah tinggi.

Ibu Idha mengatur strategi sederhana dan menjalaninya dengan disiplin. Akhir pekan adalah untuk kuliah dan riset. Tak lupa, ia juga membiasakan diri menulis kapan pun sedang sempat, bahkan saat sedang bepergian bersama suami.

“Kebetulan kalau naik pesawat saya bisa spend tujuh jam buat nulis atau baca,” ujarnya. “Di Eropa, pagi sampai siangnya saya membaca jurnal atau memproses data riset, sebelum benar-benar jalan-jalan setelah makan siang.”

Ketika Artificial Intelligence Bertemu Nudge Theory

Sebagaimana peserta didik S3 BINUS University pada umumnya, Ibu Idha dituntut menghasilkan riset yang bersifat praktis. Pada saat itu, ia mengamati banyak orang FOMO dengan artificial intelligence hingga menulis topik penelitian tentang hal tersebut. Namun, alih-alih sekadar mengembangkan model prediktif, ia memilih menautkan AI dengan psikologi perilaku. 

“Saya lihat AI itu luas banget. Kenapa tidak dicampur sama pendekatan nudge supaya nggak data-driven aja?” tuturnya. Pendekatan ekonomi perilaku ala Thaler dan Sunstein itu menjadi elemen pembeda di perbankan.

Tantangan Paling Berat: Akses Data

Di tengah penulisan karya ilmiah, Ibu Idha sempat terhalang di satu fase riset selama enam bulan karena tidak bisa mendapatkan dataset yang layak. 

“Beli data ke agregator pun sepotong-sepotong, nggak ada link key-nya,” jelasnya. Selain itu, ia juga mengakui ada tembok besar bernama regulasi privasi. Ia tidak bisa asal mengambil data, tidak bisa nekat, dan mencari jalan pintas kalau tidak ingin cari masalah.

Solusi akhirnya datang dari kreativitas tim pembimbing. Pada akhirnya, ia membangun aplikasi simulasi untuk mengumpulkan data langsung dari responden. 

“Memang investasi waktu dan biaya besar, tapi pada akhirnya manis,” ungkap Idha.

Melihat AI Sebagai Teman, Bukan Pengganti

Proses pembuatan disertasi pada program Doctor of Computer Science membuat Ibu Idha memiliki pandangan baru terhadap artificial intelligence. Banyak orang menyebutnya sekadar tools, tapi di mata Ibu Idha, definisinya lebih dari itu: “AI tuh bagi saya udah kayak teman. Bisa brainstorming, kasih ide, tapi nggak menggantikan saya.”

Ia juga menyampaikan realita pasar: banyak perusahaan ingin pakai AI, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Sementara itu, pemain teknologi punya solusi, tapi kesulitan masuk karena gap literasi, regulasi, dan kesiapan organisasi. 

“Dari sanalah saya mulai bermain sebagai bridging,” jelasnya.

Kepercayaan, Jejaring, dan Kemampuan Manusia

Menurut Idha, keberhasilan implementasi artificial intelligence tidak hanya bergantung pada seberapa canggih modelnya. Justru, kuncinya ada di manusia yang menggunakannya. Hal ini terbukti dari pengalamannya mengembangkan kurikulum pembelajaran AI untuk seluruh karyawan di korporasi. 

“Awalnya rigid, takut AI gantiin mereka. Tapi setelah paham, mereka lebih welcome,” ujarnya. 

Di saat yang bersamaan, Ibu Idha juga mengakui skill yang paling sulit digantikan AI adalah stakeholder management. Menurutnya, cara berkomunikasi ke level operasional dan C-suite sangatlah berbeda jauh, sehingga hanya bisa terbentuk dari pengalaman dan jam terbang cukup lama.

Membangun Masa Depan: Pemerintah, SDM, dan Generasi Baru

Dari proses pembuatan disertasinya, Ibu Idha melihat peluang besar di sektor publik. Pemerintah mulai melirik AI dalam strategi jangka panjang, dan di situ ia menemukan titik masuk baru. Namun, perjalanan masihlah panjang karena infrastruktur digital di Indonesia belum merata, dan ekosistem talentanya pun terbatas. Ibu Idha percaya bahwa kuncinya ada di generasi muda.

“Mereka cepat dan punya banyak support, tapi secara emosional rentan,” kata Idha. Oleh sebab itu, menurutnya mereka perlu ruang kesehatan mental, empati, dan interaksi sosial yang tetap perlu dijaga.

 

Baik Ibu Idha maupun Prof. Ford Lumban Gaol percaya bahwa artificial intelligence adalah alat yang harus ditempatkan di tengah interaksi manusia, proses bisnis, dan nilai etika. Caranya, dengan bertanya lintas disiplin, menolak jalan pintas, membangun relasi, dan membangun kolaborasi antara akademik, industri, dan pemerintah. Sehingga, ekosistem masa depan AI Indonesia akan semakin mantap.

Whatsapp