Alexander Nurenie Buktikan Ketahanan Diaspora Indonesia Raih Doktor BINUS

Tidak banyak orang Indonesia yang mengambil pilihan hidup ekstra panjang seperti merantau lintas negara, berganti karier, lalu kembali menantang diri dengan studi doktoral. Namun, Alexander Nurenie, seorang diaspora Indonesia yang kini bekerja di perusahaan Jepang di New York dan baru menyelesaikan program Doctor of Computer Science BINUS University, memilih untuk menempuh jalan tersebut. Seperti apakah perjuangannya?

Dari Medan, Jakarta, Taiwan, hingga New York

Alex tumbuh di Jakarta setelah berpindah dari Medan saat masih kecil. Meski sempat berkuliah cukup lama di ibu kota, pada akhirnya ia memutuskan untuk melakukan perjalanan jauh ke luar negeri demi mengembangkan karier. 

“Setelah lulus, saya bekerja di Taiwan. Baru setelah ada tawaran, saya pindah ke Amerika,” tuturnya tenang. Namun, proses menjadi warga negara AS tak hanya memakan waktu 1-2 tahun. Ia menyebut masa tunggu green card memerlukan waktu hingga 10 tahun, lalu masih ada tambahan enam tahun sebelum bisa naturalisasi.

Kerja Global Sebagai Diaspora Indonesia

Saat ini, Alex bekerja dalam perusahaan Jepang meski tinggal di Amerika Serikat. Namun, beliau terkejut ketika mendapati stereotipe perusahaan asal Negeri Sakura yang biasanya mulai bekerja sejak jam 7 pagi dan baru pulang pada pukul 11 malam tidak berlaku di sana. Apa alasannya?

“Di Amerika ada aturan kerja. Kalau lewat jam, hitungannya beda, harus dibayar,” ucapnya ketika membandingkan peraturan korporasi antarnegara. Selain itu, Alex menjalani sistem hybrid working, yaitu tiga hari di rumah dan dua hari ke kantor sambil memantau sekitar seribu robot untuk automasi proses laporan lintas dunia.

Robot-robot ini mengambil, memproses, dan menghasilkan laporan dalam hitungan 1-2 jam saja. Hal tersebut berbeda dengan proses manual yang biasa memakan waktu sebulan.

Pandemi Jadi Titik Balik

Titik balik Alex justru hadir saat Covid-19 melanda. Ia memang tidak di-PHK, tapi ia tetap dirumahkan sementara. Justru, dari skema tersebut, ia malah menerima kompensasi asuransi yang lebih besar dibanding gaji normal. 

Momen itulah yang kemudian memberikan ruang untuk belajar. Ketimbang menunggu situasi membaik, ia mengisi hari dengan pencarian program doktor. Awalnya, Alex ingin melanjutkan pendidikan doktoral di Amerika Serikat, tapi takdir berkata lain.

“Biaya kuliah di Amerika lebih tinggi, jadi saya coba yang di Indonesia. Saya cek BINUS,” katanya. Meski demikian, proses perkuliahannya tak bisa lepas dari tantangan.

Alex resmi menjadi peserta program Doctor of Computer Science BINUS University pada tahun 2020, dan saat itulah ia mulai kesulitan beradaptasi dengan perbedaan zona waktu. Terutama, mengingat selisih antara Waktu Indonesia Barat dan di New York bisa sangat jauh. Ketika kuliah online berlangsung pada sore hari di Jakarta, sekitar pukul 13.00-15.00 WIB, di New York masih subuh.

“Saya kuliah jam 5 pagi, lalu jam 7-8 sudah mulai kerja,” kenang Alex. 

Di sisi lain, ia sengaja menghindari menjadikan pekerjaan sebagai topik disertasi. Sebab, ia ingin menjaga kerahasiaan perusahaan dan risiko konflik kepentingan. Maka dari itu, topik penelitiannya berbelok ke ranah firmware dan machine learning, wilayah yang awalnya bukan spesialisasinya. Namun, perubahan tersebut justru memacunya belajar hal baru.

Tentang Kebijakan Amerika dan Masa Depan Diaspora

Sebagai diaspora Indonesia, Alex mengamati perubahan iklim kebijakan di AS dari dekat. Perlindungan terhadap warga lokal makin kuat, proses imigrasi dari luar negeri makin ketat, dan program hibah riset lebih banyak diarahkan ke penguatan inovasi dalam negeri. Sebut saja, untuk AI, 6G, teknologi medis, hingga komputasi masa depan 

“Kalau mau dapat hibah, perlu partner di Amerika,” katanya. Nominal hibahnya pun tidak bisa dianggap remeh, yaitu sekitar puluhan hingga ratusan ribu USD. Dari sanalah Alex juga melihat adanya peluang emas bagi mereka yang bisa mengambil posisi kolaborator.

Mental Baja, Kemampuan Nyata

Ketika ditanya apa modal utama agar profesional Indonesia bisa bersaing secara global, Alex memberikan jawaban yang sederhana: kemampuan teknis harus lebih baik dari orang lokal di negara perantauan.

Selain itu, Alex juga menekankan pentingnya memiliki mental tahan banting. Baginya, ditolak berkali-kali bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan, ia pun menekankan, “Ditolak itu biasa.. Kalau diterima itu luar biasa.”

 

Perjalanan Alexander Nurenie menunjukkan bahwa ketekunan adalah kunci dari bersaing sebagai diaspora Indonesia di luar negeri. Meski bekerja jauh dari tanah air dan harus berkuliah saat subuh tiap hari karena perbedaan 12 jam dari zona waktu, ia menganggapnya sebagai ajang untuk bertumbuh. Baginya, belajar tidak mengenal lokasi, dan ketahanan tidak mengenal paspor.

Whatsapp