Cultural Intelligence di Dunia Akademik Akuntansi

Era digital seperti sekarang ini semakin memudahkan proses komunikasi lintas negara. Terutama di tengah masa pandemi, di mana interaksi langsung secara tatap muka tidak dianjurkan untuk dilakukan. Mulai dari aktivitas kantor hingga pendidikan, pada akhirnya seluruh masyarakat dunia mulai beralih menggunakan layanan digital seperti chatting dan video conference.

Adanya kemudahan untuk berinteraksi dan berkolaborasi bersama rekan internasional juga memberikan dampak baik bagi dunia bisnis dan edukasi. Kini, keberagaman budaya bukan lagi dipandang sebagai hal yang negatif, melainkan menjadi tantangan untuk mengembangkan diri menjadi sosok yang lebih baik.

Pandangan ini secara spesifik dijabarkan oleh Dr. Meredith Tharapos, CA., CPA, Deputy Head of Accounting Department, UG Program Manager, dan Senior Lecturer School of Accounting, Information System and Supply Chain, College of Business dari RMIT University. Beliau menjadi pembicara utama dari seminar internasional online yang diselenggarakan oleh Magister Akuntansi BINUS Graduate Program dan BINUS University Undergraduate Accounting Study Program bersama RMIT University Melbourne berjudul β€œAre Accounting Academics Culturally Intelligent?” pada Rabu (8/7).

Dihadiri oleh rekan akademis, mahasiswa, dan praktisioner di berbagai penjuru Indonesia, acara dibuka dengan sambutan dari pihak panitia. Selanjutnya, Bu Rindang Widuri, S.Kom. M.M., Ph.D selaku Head of Magister Accounting BINUS Graduate Program memperkenalkan pembicara utama dan menjelaskan kembali tema yang diangkat oleh seminar, yakni seputar riset yang dilakukan oleh Mrs. Meredith mengenai isu perilaku dalam bidang akuntansi, edukasi, dan budaya.

Seminar internasional ini dilanjutkan dengan sambutan dari moderator, Dr. Heny Kurniawati, SST.Ak., M.Sc. selaku Research Coordinator Accounting & Finance BINUS University. Secara langsung, Heny menjelaskan bahwa seminar online akan dibagi menjadi tiga sesi, dimulai dengan presentasi, sesi tanya jawab, dan diakhiri dengan kesimpulan.

Keberagaman Budaya dalam Pendidikan

Dunia pendidikan, terkhusus perguruan tinggi, merupakan organisasi dengan keberagaman budaya yang paling tinggi di seluruh dunia. Di Australia, pendidikan adalah sumber ekspor dalam bidang jasa terbesar, menghasilkan sekitar AUS$20.7 milyar di tahun 2017. Keberagaman budaya tidak hanya bisa dilihat dari tatanan mahasiswa yang ada di dalam kelas, tetapi juga dalam tim kerja akademisi dan praktisioner di bidang akuntansi. Meredith menjelaskan bahwa di RMIT University, staff akademik yang ada di dalam Department of Accounting berasal dari berbagai negara, bahkan lintas benua.

Adanya keberagaman dalam budaya membawa potensi besar untuk hasil diskusi yang lebih baik dikarenakan adanya perbedaan pengalaman hidup dan sudut pandang. Akan tetapi, hal yang sama juga berpotensi untuk menghadirkan konflik baru. Contohnya seperti konflik karena interpretasi yang keliru dan timbulnya marginalisasi. Terlebih dengan adanya tantangan mengenai penerapan metodologi pendidikan, penilaian dan ekspektasi peran kerja, tanggung jawab, bahasa, serta pengetahuan dan kompetensi. Tantangan yang muncul akibat keberagaman budaya yang tidak bisa dibendung inilah yang menjadi katalis bagi segenap akademisi untuk dapat memiliki kecerdasan budaya (CQ) yang mumpuni.

Kecerdasan Budaya yang Dimiliki Akademisi Akuntansi

Kecerdasan budaya terbilang mirip dengan kecerdasan emosional, namun cakupannya lebih dalam karena adanya situasi keberagaman budaya. Di dalamnya, terdapat 4 komponen yang berkesinambungan serta dijadikan acuan dalam studi yang dikembangkan oleh Meredith. Pertama, ada metacognitive CQ sebagai kemampuan seseorang untuk mencari solusi dari isu yang disebabkan oleh keberagaman budaya. Kedua, cognitive CQ yang merupakan pengalaman dan pengetahuan akan budaya lain.

Ketiga, motivational CQ sebagai level motivasi dan keinginan seseorang untuk tetap produktif di tengah perbedaan budaya. Terakhir adalah behavioural CQ, sikap verbal dan nonverbal yang dilakukan seseorang untuk beradaptasi dalam lingkungan budaya yang berbeda.

Meredith dan tim menyebarkan survey online ke 745 responden yang merupakan akademisi di bidang Akuntansi yang bekerja penuh waktu di perguruan tinggi Australia. Dari sana, ada 253 respon yang diterima. Data survey mengungkapkan bahwa rata-rata nilai yang dimiliki oleh para responden ini terhadap komponen CQ yang sudah dijelaskan sebelumnya mencapai angka 4-5, dengan nilai terbawah sebesar 4.19 di cognitive CQ dan nilai tertinggi 5.4 di metacognitive CQ.

Dibandingkan dengan studi yang sudah dilakukan sebelumnya, nilai dari para akademisi akuntansi Australia masuk dalam kategori terendah, di bawah professional cohorts lainnya. Riset juga membuktikan bahwa akademisi yang pernah mengajar di wilayah Asia Tenggara memiliki nilai total CQ yang positif bila dibandingkan dengan akademisi yang mengajar di negara berbahasa Inggris.

Akhir kata, Meredith mengungkapkan bahwa kecerdasan budaya dapat dikembangkan. Seminar internasional kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab mengenai riset yang dipresentasikan Meredith, kemudian ditutup dengan sesi digital photoshoot para hadirin beserta pembicara utama.